RSS
Tampilkan postingan dengan label Health. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Health. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Mei 2014

Kebiasaan Makan Orang Tua Membentuk Kebiasaan Makan Anak

Ditulis oleh Budi Sutomo













Anak belajar dari meniru, khususnya meniru orang-orang yang ada di lingkungan terdekatnya. Karena itu apa yang dilakukan oleh orangtua biasanya akan ditiru oleh anak. Termasuk dalam kebiasaan makan. Seperti kebiasaan orang tua yang suka menyisihkan sayur saat makan. Lantas bagaimana sebenarnya sikap orang tua  yang benar ?
Disadari atau tidak, banyak orang tua yang secara tidak langsung memberikan contoh tidak baik terhadap anak-anak. Terutama kebiasaan di saat makan. Banyak orang tua yang makan berlebihan terutama saat mengonsumsi makanan kesukaan. Terkadang orang tua juga membeli makanan jajanan yang tidak sehat di depan anak-anak. Kebiasaan jajan makanan orang tua, akan ditiru oleh anak-anak. Begitu juga dengan kebiasaan menyisakan makanan atau menyisihkan makanan yang tidak disukai. Padahal bisa jadi makanan yang disisihkan ini justru mengandung nutrisi yang esensial bagi tubuh.
Ada banyak kebiasaan buruk kita soal makanan yang tentunya tidak baik jika sampai menurun ke anak. Mungkin orantua tanpa sadar melakukannya di depan anak, karena sudah menjadi kebiasaan.
Berikut ini adalah pengingat bagi Anda, beberapa kebiasaan makan yang sebaiknya tidak ada lakukan di depan si Kecil.
1.     Jangan mengonsumsi makanan kesukaan secara berlebihan; Kebiasaan ini akan dicontoh oleh anak. Konsumsi makanan tertentu yang berlebihan, apalagi jika makanan tersebut berupa junk food yang tinggi lemak, gula, dan garam akan berdampak negatif untuk kesehatan tubuh.
2.     Jangan jajan sembarangan; Mengonsumsi makanan jajanan yang sehat dan terjaga kebersihannya boleh-boleh saja. Namun terkadang orang tua seringkali tidak bisa menahan hasratnya untuk membeli jajanan pinggir jalan yang tidak higienis. Apa jadinya jika kebiasaan ini dicontoh oleh anak? Beragam penyakit seperti diare hingga keracunan makanan bisa terjadi jika jajan sembarangan. Belum lagi bahaya pewarna, pengawet dan penguat rasa yang dapat menggangu kesehatan anak.
3.     Jangan menyisakan makanan; Menyisakan makanan yang tidak disukai di atas piring memberi contoh yang tidak baik bagi anak. Kebiasaan ini bisa ditiru jika anak tidak menyukai rasa tertentu dari makanan. Kebiasaan ini dapat berakibat buruk terhadap kesehatan anak jika dilakukan terhadap bahan makanan yang mengandung nutrisi esensial bagi tubuh. Seperti tidak menyukai susu, sayuran, ikan, atau buah.
4.     Jangan mencela makanan; Ungkapan orang tua terhadap makanan tertentu seperti, “ makananya tidak enak, makanan ini berlendir, makanan ini pahit, atau makanannya terlalu lunak.” Kebiasaan mencela makanan di depan anak akan ditiru dan memberikan presepsi di dalam diri anak, bahwa kita boleh tidak menyukai makanan yang dianggap kurang enak. Padahal makanan yang dianggap kurang enak belum tentu buruk dilihat dari sisi nutrisi. Seperti pare yang pahit justru kaya vitamin dan mineral atau sayuran terung yang berlendir justru kaya nutrisi. Jadi berhati-hatilah dalam menunjukkan ekspresi ketidaksukaan di depan anak.
5.     Jangan memuji kualitas dan rasa makanan karena harganya mahal atau karena produk impor; Kebiasaan orang tua seringkali memberikan ekspresi berlebihan terhadap produk makanan yang mahal atau impor. Jika dilihat anak, presepsi mereka akan memandang sebelah mata akan produk lokal yang murah. Padahal untuk produk tertentu seperti sayuran dan buah, produk lokal justru lebih terjamin kesegarannya. Meskipun murah, kandungan sayuran dan buah lokal juga mengandung nutrisi yang sama baiknya.    
Memang terkadang sulit untuk mengubah kebiasaan yang sudah bertahun-tahun kita lakukan, tetapi tentu setiap orangtua ingin yang tebaik bagi si Kecil, bukan? Ayo mulai menerapkan kebiasaan makan yang sehat agar keluarga selalu mendapatkan yang terbaik.

Jangan Lupa Mengulang Imunisasi

Ditulis oleh Dr. Handrawan Nadesul

Keberhasilan imunisasi ikut menentukan kesehatan anak kelak sampai dewasa. Dengan imunisasi,anak sedikitnyaterlindungi dari 7 enis penyakit seperti hepatitis B, TBC, Polio, campak, tetanus, dan lainnya. Konvensi WHO menuntut setiap orangtua untuk memenuhi hak anak mendapatkan imunisasi. Selain imunisasi wajib, ada juga imunisasi yang dianjurkan. Selain itu, vaksinasi tak cukup hanya diberikan sekali saja, beberapa imunisasi perlu diberikan ulang atau yang sering disebutbooster. Kapanbooster diberikan kita bahas di sini.
JADWAL imunisasi bisa berubah-ubah di setiap negara, disesuaikan dengan perkembangan kondisi dan jenis penyakit yang tengah mengancam anak di negara tersebut. Kita tahu setelah memberikan imunisasi awal sebagai imunisasi dasar bagi anak, perlu dilakukan imunisasi ulang untuk memperkuat dan memperpanjang masa kebal terhadap penyakit agar anak penuh terlindungi.

Imunisasi wajib
Ada 8 jenis penyakit yang vaksinnya dijadikan imunisasi dasar di Indonesia, diantaranya Hepatitis B, TBC, Polio, Campak dan lainnya. Artinya semua anak sejak baru lahir sampai usia 3 tahun diwajibkan untuk menerimanya secara lengkap.
MENGABAIKANNYA BERARTI AKAN MENINGKATKAN ANGKA JATUH SAKIT, SELAIN ANCAMAN KEMATIAN OLEH PENYAKIT YANG SEBETULNYA BISA KITA CEGAH.
Berikut ini adalah imunisasi dasar bagi anak dan jadwal pemberiannya:
·         Hepatitis B diberikan awal kepada bayi baru lahir
·         BCG (untuk TBC) danpolio-1 diberikan saat anak berumur 1 bulan
·         DPT-1, polio-2, hepatitis B-2, dan HiB-1 (untuk radang paru) saat anak berumur 2 bulan
·         DPT-2,  polio-3, hepatitis B-3, dan HiB-2 saat anak berumur 3 bulan
·         HiB-3 saat anak menginjak usia 4 bulan
·         Campak (measles) diberikan pada anak umur 9 bulan
Diharapkan setelah mendapatkan imunisasi dasar, tubuh bayi membentuk kekebalan terhadap kedelapan jenis penyakit tadi. Tentunyatiap anak tak sama respons pembentukan kekebalan tubuhnya. Anak kurang gizi, atau sedang berpenyakit, lemah saja pembentukan kekebalannya. Tetapi normalnya, semua anak tubuhnya akan menjadi kebal.
Namun kekebalan itu bersifat aktif, artinya kekebalan yang dibentuk oleh tubuh anak ini belum terbentuk sempurna, sehingga perlu diberikan imunisasi ulang atau booster. Apabila ini tidak dilakukan, maka kekebalannya baru separuh jadi. Artinya anak belum terlindungi penuh terhadap kedelapan penyakit tadi, atau masih berisiko terserang penyakitnya.

Kapan imunisasi ulang diberikan?
Untuk imunisasi DPT, HiB dan hepatitis B diberikan setelah anak berumur 18 bulan. Pada saat anak berumur 2 tahun diberikan imunisasi campak ulangan, dan pada waktu berumur 3 tahun wajib diulang imunisasi DPT, hepatitis B, HiB, dan campak.
Kalau itu semua dipatuhi, niscaya anak akan terlindung secara penuh terhadap serangan sekian banyak penyakit, yang semuanya berisiko mematikan kalau anak dibiarkan lemah tanpa imunisasi. Maka imunisasi hendaknya tidak diabaikan.
SELAIN IMUNISASI WAJIB, ADA PULA JENIS IMUNISASI YANG DIANJURKAN. KALAU IMUNISASI WAJIB DIBERIKAN LAYANAN SECARA CUMA-CUMA OLEH PEMERINTAH, IMUNISASI YANG DIANJURKAN DILAKUKAN ATAS  PERMINTAAN SENDIRI.
Kita mengenal imunisasi MMR (gondong, campak, campak jerman); tifus, hepatitis A; PCV untuk radang paru olehpneumococcus; HPV (human papilloma virus) untuk anti kanker leher rahim yang diberikan setelah anak perempuan berumur 10 tahun; dan vaksinasi varicella (cacar air).
Untuk lebih praktisnya, agar anak tidak disuntik beberapa kali, kini telah tersedia satu suntikan vaksin untuk 5 penyakit (DPT+hepatitis B+ HiB) atau vaksin pentavalen. Baik imunisasi dasar maupun yang ulangan, anak tidak perlu menderita mengalami lebih dari satu kali suntikan.

Minggu, 11 Mei 2014

Manfaat Donor Darah




Manfaat donor darah jika dilakukan secara rutin memiliki manfaat yang sangat baik bagi tubuh manusia. Donor darah merupakan kegiatan mulia yang secara tidak langsung kita telah membantu menyelamatkan hidup seseorang dari ancaman kematian. Kegiatan donor darah sendiri sudah dimulai dijalankan pada tahun 1818 oleh Dr. James Blundell, namun sayangnya pada saat itu masih belum mengenal adanya pengelompokan golongan darah berdasarkan jenisnya sehingga terdapat banyak pasien yang meninggal.
Sebenarnya usaha dalam melakukan transfuse darah pertama kali dicoba pada abad ke-15 dengan pasien pertama Pope Innocent VII, namun usaha ini gagal total karena mereka mencoba mentransfusinya lewat mulut. Setelah itu kegiatan transfusi darah terus dikembangkan dengan diikuti berbagai penelitian dan hasilnya kegiatan transfuse berhasil dilakukan secara sukses dan aman .

Manfaat Donor Darah Jika Dilakukan Secara Rutin

manfaat-donor-darah

Sekarang ini kegiatan donor darah bisa dibilang merupakan kegiatan amal yang bisa kita lakukan kapan saja dan dimana saja terutama jika ada orang yang sangat memerlukan golongan darah yang sama dengan kita. Yang kita butuhkan adalah kondisi kesehatan yang fit dengan minimal berat badan 45 kg, dan usia sekitar 17 tahun hingga 60 tahun. Sebelum kita memberikan donor darah, maka petugas medis akan mengecek terlebih dahulu apakah si pendonor layak untuk mendonorkan darahnya atau tidak. Melakukan kegiatan donor darah juga memiliki manfaat tersendiri bagi tubuh manusia. Beberapa manfaat donor darah jika dilakukan secara rutin sebagai berikut:
1. Menjaga kesehatan jantung dari terjadinya penyumbatan pembuluh darah, Perlu di ketahui, zat besi yang terlalu banyak pada tubuh akan memicu terjadi oksidasi kolesterol sehingga berpotensi menyebabkan serangan jantung serta stroke. Jadi dengan melakukan donor darah akan membuat zat besi tetap stabil.
2. Membantu menurunkan berat tubuh sekitar 7%, sebab pada saat melakukan donor darah maka tubuh melakukan pembakaran kalori sekitar 650 dengan asumsi pendonoran darah sekitar 450ml.