RSS
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Farmasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Farmasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Mei 2014

Sejarah Farmakognosi

Sejarah farmasi selama berabad-abad identik dengan sejarah farmakognosi , atau studi materia medika yang diperoleh dari sumber-sumber alami-kebanyakan tumbuh-tumbuhan dan juga mineral, hewan dan jamur. (Heinrich,M ,etc,.2009) Tinjauan sejarah ini hanya mencakup tradisi Eropa dan Asia yang telah diketahui dengan baik : obat tradisional Cina (traditional Chinese medicine/TCM), Ayurveda dan Jamu.

Istilah farmakognsi berasal dari kata Yunani yaitu:  Pharmacon (obat) dan Gnosis (ilmu pengetahuan).  Istilah ini diperkenalkan oleh S.A.Seydler, seorang mahasiswa kedokteran di Halle/Saale, Jerman, yang menggunakan judul ”Analectica Pharmacognoistica” dalam disetasinya pada tahun 1815.  Namun penelitian sejarah terakhir telah menemukan penggunaan istilah ”Farmakognosis” yang lebih awal J.A. Schmidt menggunakan istilah tersebut dalam Lehrbuch der Materia Medica, dipublikasikan di Vienna tahun 1811 yang  menjelaskan tentang studi tumbuhan obat dan sifat-sifatnya. (classbhe.files.wordpress.com/…/pendahuluan-farmakognosi-sejarah.d…)

Pada akhir abad ke-20 terjadi 3 kejadian penting yang telah menghasilkan perubahan mendasar pada sikap/perilaku masyarakat dan ilmuan tentang farmakognosi.  Pertama, orang awam menemukan kegunaan seluruh tumbuhan obat atau yang umumnya mereka sebut dengan herba.  Ketidakpuasan terhadap kemanjutan dan biaya obat modern ditambah dengan makin meningkatnya depresiasi terhadap sesuatu yang bersifat ”alami” dan ”organik” telah mengakibatkan berjuta orang di seluruh dunia menambah apresiasi yang mendalam terhadap penggunaan obat tradisional untuk pengobatan bermacam penyakitnya (classbhe.files.wordpress.com/…/pendahuluan-farmakognosi-sejarah.d…).

SUMBER INFORMASI
Sumber informasi yang tersedia untuk memahami sejarah penggunaan tumbuhan obat(juga nutrisi dan racun) adalah catatan arkeologis dan dokumen tertulis.

Catatan dari Negara Arab dan Eropa Kuno (Heinrich,M ,etc,.2009)
Contoh di Negara Eropa pada zaman dulu adalah jamur obat yang ditemukan bersama ‘manusia es’ dari Austria/Italia di pegunungan Alpen Ă–tztal (3300 SM). Dua objek berbentuk kenari di identifikasikan sebagai pohon bepori (Pipoporus betulinus), suatu jamur hambalan yang umumnya terdapat di pegunungan tinggi dan lingkungan dingin lainnya. Spesies ini mengandung bahan alam beracun dan salah satu unsure aktifnya (asam agarat) merupakan pencahar yang sangat kuat dan efektif  sehingga senyawa ini menyebabkan diare berlangsung singkat dan kuat.

Dokumen Shanidar IV
Kuburan manusia Neandertal masa Shanidar IV, suatu tempat arkeologis di Iraq, merupakan catatan terdokumetasi paling awal yang diperkirakan berhubungan dengan tumbuhan obat, sejak dari 60.000 SM. Serbuk sari dari beberapa spesies tumbuh-tumbuhan yang diperkirakan dipergunakan sebagai obat , telah ditemukan (Leroi-Gourhan 1975, Lietava 1992):

Centaurea solsitialis L. (Knapweed, Asteraceae)
Ephedra altissima (efedra, Ephedraceae)
Achillea sp. (yarrow, Asteraceae)
Muscari sp. (grape hyacinth, Lilliaceae/Hyacinthaceae)
Senecio sp. (groundsel,Asteraceae)

Spesies-spesies ini diperkirakan berada di tanaha dan memebentuk suatu hamparan yang diatasnya terbaring jasad renik spesies-spesies ini. Tumbuhan-tumbuhan ini kemungkinan merupakan budaya utama yang penting bagi orang-orang Shanidar IV.

Catatan Klasik dari Arab, Yunani, dan Roma (Heinrich,M ,etc,.2009)
Informasi tertulis paling tua dalam tradisi orang Eropa-Arab berasal dari orang Sumeria dan Akkad di Mesopotamia. Penduduk ini berasal dari daerah yang sama seperti yang tercatat arkeologis Shanidar IV.

Obat Yunani telah menjadi fokus penelitian searah farmasi selama beberapa dasawarsa. seorang sarjana Yunani, Pedanius Dioscorides dari anarzabos (1 SM) dianggap sebagai ‘bapak obat-obatan [dinegara barat]‘. Karyanya merupakan suatu doktrin yang mengatur praktik farmasi dan kedokteran selama lebih dari 1500 tahun dan yang berpengaruh besar terhadap farmasi di eropa.

•   pandanius dioscorides
Salinan tertua dan paling terkenal adalah naskah Byzantine yang di produksi sekitar tahun 1512 untuk Anicia Juliana, putri Flavius Anicius Olybrius, yaitu  kaisar dari kekaisaran barat pada 472 AD. Halaman di atas diambil dari naskah ini dan Anda dapat melihat beberapa penjelasan dalam bahasa Arab. (reneeyancy.blogspot.com)

Para sarjana yunani lainnya yang berpengaruh dengan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan alam. Hipokrates, seorang dokter medis Yunani (kira-kira 460-375  SM) berasal dari pulau Kos dan mempunyai pengaruh besar terhadap tradisi medis Eropa.

Dokter Yunani-Roma, Cladius Galen (Galenus) (tahun 130-201) meringkas bidang kompleks kedokteran dan farmasi Yunani-Roma, dan namanya digunakan dalam istilah farmasi ‘galenika’.Yang paling penting dalam tulisan ini adalah Papirus Ebers, berasal dari sekitar 1500 SM.
Naskah  Shen nong ben cao jing   yang telah di ubah ke bahasa inggris.
                      
salah satu contoh Papyrus Ebers

Dokumen ini di yakini ditemukan dalam makam dan dibawa pada tahun 1873 oleh Georg Ebers, orang yang menyimpannya di Universitas Leipzig dan dua tahun kemudian di publikasikan dalam edisi faksimili. Papirus Ebers merupakan buku pegangan medis yang mencakup semua macam penyakit dan termasuk empiris dan juga bentuk simbolik pengobatan.

Catatan Klasik dari Cina(Heinrich,M ,etc,.2009)
Di Cina , bidang ini berkembang sebagai unsur Taoisme yang menggap; para pengikut berusaha untuk menjamin hidup yang lama (atau kekekalan) melalui meditasi, makanan khusus, tumbuhan obat, latihan dan praktik seksual tertentu. Kerja paling penting dalam tradisi ini adalah Shen nong ben cao jing (‘Risalah Obat dari Negarawan yang Hebat’) yang sekarang ini hanya tersedia sebagai kompilasi terakhir( Waller 1998).

Naskah  Shen nong ben cao jing
Seksi penting Tentang Obat-obatan kerja Orang Cina (setelah waller 1998)
•    Shen nong ben Ciao Jing ( Risalah obat negarawan yang hebat) , Tahun 200 SM, penulis; Shen Nong
•    Shang han za bing Lun (tentang berbagai penyakit yang disebabkan pilek), Tahun Abad ke-2, penulis; tidak diketahui
•    Shen nong ben ciao jing fi zhu (Penjalasan-penjelasan yang terkumpul pada Shen nong ben cioa jing), tahun Abad ke-6, penulis; Too Hongjing, dll.
Obat Tradisional Lainnya(Heinrich,M ,etc,.2009) 

•    Ayurveda

Ayurveda  merupakan obat paling kuno dari semua obat tradisonal. Ayurveda dianggap merupakan asal mula obat tersistematis karena tulisan-tulisan Hindu kuno tentang obat tidak mengandung referensi obat luar negeri, sedangkan teks-teks Yunani dan Timur tengah merujuk kepada ide-ide dan obat-obat yang berasal dari india.
Istilah ‘ ayurveda’ berasal dari kata ayur yang berarti ‘hidup’ dann ‘veda‘ yang berarti pengetahuan serta tambahan terakhir untuk tulisan suci Hindu dari  1200 SM  disebut Artharva-veda.



•    Jamu
Jamu, obat tradisonal indonesia yang di duga berasal dari keraton Surakarta dan Yogyakarta di Jawa Tengah , dari praktik budaya jawa kuno  dan juga sebagai hasil pengaruh obat Cina, india dan Arab.
            Setelah islam masuk di jawa dan kerajaan majapahit hancur , banyak orang jawa melarikan diri terutama ke Bali, membawa buku-buku , budaya dan kebiasaanya termasuk obat. Ada beberapa catatan yang masih ada , tetapi catatan tersebut  masih sering di rahasiakan oleh tabib atau keluarga mereka. Mereka menganggap hal ini suci dan tertutup bagi orang luar , contohnya seperti catatan yang ada di Yogyakarta.

Jamu berisi unsur-unsur TCM, seperti mengobati penyakit-penyakit ‘panas’ dengan obat ‘dingin’, dan ayurveda yang menggunakan aspek religius  dan pemijatan sangat penting.
Dua maunskrip yang paling penting adalah - serta kawruh bab jampi-jampi (‘Suatu risalah berbagai macam penyembuhan ‘) dan Serta Centhini ‘ (Buku Sentini’) ada di perpustakaan Keraton surakarta.


•    Kampo
Kampo, atau obat tradisional jepang ,  kadang-kadang berhubungan dengan dosis rendah TCM. Sistem Cina merupakan bentuk utama praktik medis di Jepang, yang daang melalui Korea dan dijadikan obat asli di jepang . Pertukaran pelajar dengan Cina mempunyai arti bahwa praktik medis dan keagaamaan sebenarnya identik; sebagai contoh, sistm medis yang terbentuk di jepang pada tahun 702 merupakan salinan yang sama dengan sistem dinasti T’ang .


Kampo herbal
Seorang farmasis menyiapan peresepan dari obat herbal kampo pada salah satu rumah sakit …


http://smf-alfurqan.blogspot.com/

Senin, 12 Mei 2014

Sejarah Farmasi Islam


Peradaban Islam dikenal sebagai perintis dalam bidang farmasi. Para ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam sudah berhasil menguasai riset ilimiah mengenai komposisi, dosis, penggunaan, dan efek dari obat-obatan sederhana dan campuran.  Selain menguasai bidang farmasi, masyarakat Muslim pun tercatat sebagai peradaban pertama yang memiliki apotek atau toko obat.

Sharif Kaf al-Ghazal dalam tulisannya bertajuk The valuable contributions of Al-Razi (Rhazes) in the history of pharmacy during the Middle Ages, mengungkapkan, apotek pertama di dunia berdiri di kota Baghdad pada tahun 754 M. Saat itu, Baghdad sudah menjadi ibukota Kekhalifahan Abbasiyah. ''Apotek pertama di Baghdad didirikan oleh para apoteker Muslim,'' ungkap al-Ghazal.

Jauh sebelum peradaban Barat mengenal apotek, masyarakat Islam lebih dulu menguasainya.  Sejarah mencatat, apoteker pertama di Eropa baru muncul pada akhir abad ke-14, bernama Geoffrey Chaucer (1342-1400). Ia dikenal sebagai apoteker asal Inggris. Apotek mulai menyebar di Eropa setelah  pada abad ke-15 hingga ke-19 M, praktisi apoteker mulai berkembang di benua itu.

''Umat Islam-lah yang mendirikan warung pengobatan pertama,'' papar Howard R Turner dalam bukunya bertajuk  Science in Medievel Islam .  Philip K Hitti dalam bukunya yang terkenal bertajuk  History of Arab, juga mengakui bahawa peradaban Islamlah yang pertama kali mendirikan apotek.

''Selain itu, peradaban Islam juga merupakan pendiri sekolah farmasi pertama,'' ungkap K Hitti. Ia juga membuktikan bahwa umat Muslim di era kekhalifahan sebagai pencipta pharmacopoeia yang pertama. Perkembangan ilmu farmasi yang begitu cepat, membuat apotek atau toko-toko obat tumbuh menjamur di kota-kota Islam.

Hampir di setiap rumah sakit besar di kota-kota Islam dilengkapi dengan apotek atau instalasi farmakologi. Apotek-apotek itu dikelola oleh apoteker yang menguasai ilmu peracikan obat. ''Kaum Muslimin menyumbang begitu banyak hal terhadap perkembangan apotek atau obat,'' ungkap Howard R Turner dalam bukunya bertajuk  Science in Medievel Islam .

Di era kejayaan Islam, toko-toko obat bermunculan bak jamur di musim hujan. Toko obat yang banyak jumlahnya tak cuma hadir di kota Baghdad - kota metropolis dunia di era kejayaan Abbasiyah - namun juga di kota-kota Islam lainnya. Para ahli farmasi ketika itu sudah mulai mendirikan apotek sendiri. Mereka menggunakan keahlian yang dimilikinya untuk meracik, menyimpan, serta menjaga aneka obat-obatan.

Pemerintah Muslim pun turun mendukung pembangunan di bidang farmasi. Rumah sakit milik pemerintah yang ketika itu memberikan perawatan kesehatan secara cuma-cuma bagi rakyatnya juga mendirikan laboratorium untuk meracik dan memproduksi aneka obat-obatan dalam skala besar.Keamanan obat-obatan yang dijual di apotek swasta dan pemerintah diawasi secara ketat. Secara periodik, pemerintah melalui pejabat dari Al-Muhtasib - semacam badan pengawas obat-obatan - mengawasi dan memeriksa seluruh toko obat dan apotek. Para pengawas dari Al-Muhtasib secara teliti mengukur akurasi berat dan ukuran kemurnian dari obat yang digunakan.

Pengawasan yang amat ketat itu dilakukan untuk mencegah penggunaan bahan-bahan yang berbahaya dalam obat dan sirup. Semua itu dilakukan semata-mata untuk melindungi masyarakat dari bahaya obat-obatan yang tak sesuai dengan aturan. Pengawasan obat-obatan yang dilakukan secara ketat dan teliti yang telah diterapkan di era kekhalifahan Islam.

Perkembangan  ilmu botani dan kimia telah mendorong umat Muslim untuk mengembangkan farmasi.  Pada masa itu, ilmuwan Muslim seperti  Muhammad ibnu Zakariya al-Razi (865-915 M) alias Razes turut mengembangkan pengobatan dengan menggunakan obat-obatan.  Selain itu, dokter dan ahli farmasi Muslim lainnya  Abu al-Qasim al-Zahrawi alias Abulcasis (936-1013 M) juga tercatat sebagai saintis perintis dalam bidang distiliasi dan sublimasi.

Tak cuma itu, Sabur ibnu Sahl (wafat 869 M), juga tercatat sebagai dokter pertama yang mencetuskan  pharmacopoedia. Ia telah menjelaskan beragam jenis obat-obatan  untuk mengobati penyakit. Saintis Muslim lainnya yang turut menopang tumbuhnya aoptek di era Islam adalah  al-Biruni (973-1050 M). Sang ilmuwan legendaris Islam itu telah menulis buku farmakologi yang sangat berharga bertajuk  Kitab al-Saydalah ( Buku tentang Obat-obatan).

Dalam kitabnya itu, al-Biruni menjelaskan secara detail pengetahuan mengenai peralatan untuk pembuatan oba-obatan, peran farmasi, fungsi serta tugas apoteker. Ia juga menjelaskan tentang apotek. Ilmuwan Muslim lainnya, Ibnu Sina  alias Avicenna juga menulis tak kurang dari 700 persiapan pembuatan obat, peralatannya, kegunaan dan khasiat obat -obatan tersebut.  Kontribusi Ibnu Sina dalam bidang farmasi itu dituliskannya dalam bukunya yang sangat monumental  Canon of Medicine.

Ilmuwan Muslim lainnya yang turut menopang berdiri serta berkembangnya apotek di dunia Islam adalah al-Maridini dan Ibnu al-Wafid (1008-1074). Kedua karya ilmuwan Muslim itu  telah dicetak dalam bahasa Latin lebih dari 50 kali. Kitab yang ditulis keduanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul   De Medicinis universalibus et particularibus dan   Medicamentis simplicibus.

"Kaum Muslimin telah menyumbang banyak hal dalam bidang farmasi dan pengaruhnya sangat luar biasa terhadap Barat," papar Turner. Menurut Turner, para sarjana Muslim di zaman kejayaan telah memperkenalkan sederet obat herbal yang terbukti berkhasiat untuk kesehatan, seperti, adas manis, kayu manis, cengkeh, kamper, sulfur, serta merkuri sebagai unsur atau bahan racikan obat-obatan.

Menurut K Hitti, kemajuan peradaban Islam dalam farmasi dan apotek ditopang oleh banyaknya buku dalam bidang farmakologi yang ditulis ilmuwan Muslim. K Hitti mencatat, buku farmakologi pertama di dunia Islam ditulis oleh  Jabir bin Hayyan.  Selain itu, ada pula karya  al-Razi, Ibnu Sina, Tabari dan d Majusi. ''al-Razi dan Ibnu Sina adalah dua dokter yang paling terkemuka di zamannya,'' ujar K Hitti.

Sejak dulu, apotek yang dikelola apoteker merupakan bagian yang tak terpisahkan dari  institusi rumah sakit. Hal itu sama halnya dengan  farmasi dan farmakologi yang juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ilmu kedokteran. Dunia farmasi profesional secara resmi terpisah dari ilmu kedokteran di era kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah.

Terpisahnya farmasi dari kedokteran pada abad ke-8 M, membuat farmakolog menjadi profesi yang independen dan farmakologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Menurut Howard R Turner, praktisi seperti herbalis, kolektor, penjual tumbuhan, rempah-rempah untuk obat-obatan, penjual dan pembuat sirup, kosmetik, air aromatik, serta apoteker merupakan profesi yang menopang geliat farmasi di dunia Islam. heri ruslan

Ilmuwan Muslim Penopang Apotek

* Abu Jafar Al-Ghafiqi (wafat 1165 M)
Ilmuwan Muslim yang satu ini juga turut memberi kontribusi dalam pengembangan farmakologi dan farmasi. Sumbangan Al-Ghafiqi untuk memajukan ilmu tentang komposisi, dosis, meracik dan menyimpan obat-obatan dituliskannya dalam kitab Al-Jami Al-Adwiyyah Al-Mufradah. Risalah itu memaparkan tentang pendekatan dalam metodelogi, eksperimen, serta observasi dalam farmakologi dan farmasi.


* Sabur Ibnu Sahl (wafat 869 M)
Ibnu Sahal adalah dokter pertama yang mempelopori pharmacopoeia. Kontribusinya dalam bidang farmakologi dan farmasi juga terbilang mata besar. Dia menjelaskan beragam jenis obat-obatan. Sumbangannya untuk pengembangan farmakologi dan farmasi dituangkannya dalam kitab Al-Aqrabadhin.


* Yuhanna Ibnu Masawayh (777 M - 857 M)
Orang Barat menyebutnya Mesue. Ibnu Masawayh merupakan anak seorang apoteker. Kontribusinya juga terbilang penting dalam pengembangan farmasi dan farmakologi. Dalam kitab yang ditulisnya, Ibnu Masawayh membuat daftar sekitar 30 macam aromatik.Salah satu karya Ibnu Masawayh yang terkenal adalah kitab Al-Mushajjar Al-Kabir. Kitab ini merupakan semacam ensiklopedia yang berisi daftar penyakit berikut pengobatannya melalui obat-obatan serta diet.


* Abu Hasan Ali bin Sahl Rabban at- Tabari
At-Tabari lahir pada tahun 808 M. Pada usia 30 tahun, dia dipanggil oleh Khalifah Al-Mutasim ke Samarra untuk menjadi dokter istana. Salah satu sumbangan At-Tabari dalam bidang farmakologi adalah dengan menulis sejumlah kitab. Salah satunya yang terkenal adalah Paradise of Wisdom. Dalam kitab ini dibahas mengenai pengobatan menggunakan binatang dan organ-organ burung. Dia juga memperkenalkan sejumlah obat serta cara pembuatannya.

Sejarah Farmasi


Kimia Farmasi
Sejak masa Hipocrates (460-370 SM) yang dikenal sebagai “Bapak Ilmu Kedokteran”, belum dikenal adanya profesi Farmasi. Saat itu seorang “Dokter” yang mendignosis penyakit, juga sekaligus merupakan seorang “Apoteker” yang menyiapkan obat. Semakin berkembangnya ilmu kesehatan masalah penyediaan obat semakin rumit, baik formula maupun cara pembuatannya, sehingga dibutuhkan adanya suatu keahlian tersendiri. Pada tahun 1240 M, Raja Jerman Frederick IImemerintahkan pemisahan secara resmi antara Farmasi dan Kedokteran dalam dekritnya yang terkenal “Two Silices”. Dari sejarah ini, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah akar ilmu farmasi dan ilmu kedokteran adalah sama.

Awal Mula Kelahiran Ilmu Farmasi
Farmasi (bahasa Inggris: pharmacy, bahasa Yunani: pharmacon, yang berarti : obat) merupakan salah satu bidang profesional kesehatan yang merupakan kombinasi dari ilmu kesehatan dan ilmu kimia, yang mempunyai tanggung-jawab memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan obat. Ruang lingkup dari praktik farmasi termasuk praktik farmasi tradisional seperti peracikan dan penyediaan sediaan obat, serta pelayanan farmasi modern yang berhubungan dengan layanan terhadap pasien (patient care) di antaranya layanan klinik, evaluasi efikasi dan keamanan penggunaan obat, dan penyediaan informasi obat. Kata farmasi berasal dari kata farma (pharma). Farma merupakan istilah yang dipakai pada tahun 1400 - 1600an.

  • Paracelsus (1541-1493 SM) berpendapat bahwa untuk membuat sediaan obat perlu pengetahuan kandungan zat aktifnya dan dia membuat obat dari bahan yang sudah diketahui zat aktifnya
  • Hippocrates (459-370 SM) yang dikenal dengan “bapak kedokteran” dalam praktek pengobatannya telah menggunakan lebih dari 200 jenis tumbuhan.
  • Claudius Galen (200-129 SM) menghubungkan penyembuhan penyakit dengan teori kerja obat yang merupakan bidang ilmu farmakologi.
  • Ibnu Sina (980-1037) telah menulis beberapa buku tentang metode pengumpulan dan penyimpanan tumbuhan obat serta cara pembuatan sediaan obat seperti pil, supositoria, sirup dan menggabungkan pengetahuan pengobatan dari berbagai negara yaitu Yunani, India, Persia, dan Arab untuk menghasilkan pengobatan yang lebih baik.
Johann Jakob Wepfer (1620-1695) berhasil melakukan verifikasi efek farmakologi dan toksikologi obat pada hewan percobaan, ia mengatakan :”I pondered at length, finally I resolved to clarify the matter by experiment”. Ia adalah orang pertama yang melakukan penelitian farmakologi dan toksikologi pada hewan percobaan. Percobaan pada hewan merupakan uji praklinik yang sampai sekarang merupakan persyaratan sebelum obat diuji–coba secara klinik pada manusia.

Institut Farmakologi pertama didirikan pada th 1847 oleh Rudolf Buchheim (1820-1879) di Universitas Dorpat (Estonia). Selanjutnya Oswald Schiedeberg (1838-1921) bersama dengan pakar disiplin ilmu lain menghasilkan konsep fundamental dalam kerja obat meliputi reseptor obat, hubungan struktur dengan aktivitas dan toksisitas selektif. Konsep tersebut juga diperkuat oleh T. Frazer (1852-1921) di Scotlandia, J. Langley (1852-1925) di Inggris dan P. Ehrlich (1854-1915) di Jerman.

Demikian beberapa ulasan sejarah farmasi Dunia barat yang semuanya berawal dari Hipocrates yang dikenal sebagai bapak kedokteran, jika dilihat secara mendalam maka ilmu kefarmasian dan ilmu kedokteran memiliki sumber yang sama sehingga diharapkan keilmuan ini dapat bekerja sama untuk mencapai efek terapi yang maksimal bagi pasien.

Aji Wibowo,S.Farm.,Apt

Sejarah Farmasi http://farmatika.blogspot.com/p/sejarah-farmasi.html#ixzz31ixuuBS5