RSS
Tampilkan postingan dengan label Pharmacology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pharmacology. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Mei 2014

Capreomycin


Deskripsi 

Capreomycin adalah salah satu jenis antibiotik untuk mengobati tuberculosis (TBC). Obat ini biasa dikombinasikan dengan obat lain untuk mencegah pertumbuhan bakteri yang menyebabkan TBC di dalam tubuh.


Obat ini hanya dapat diperoleh dengan resep dokter.
http://health.detik.com/readobat/909/capreomycin

Nevirapine



Deskripsi 

Nevirapine adalah obat yang digunakan dengan obat HIV lain untuk membantu mengendalikan infeksi HIV. Obat ini membantu mengurangi jumlah HIV dalam tubuh sehingga sistem kekebalan tubuh dapat bekerja lebih baik. Penggunaan obat ini dapat menurunkan risiko komplikasi HIV (seperti infeksi baru, kanker) dan meningkatkan kualitas hidup.

Nevirapine milik kelas obat yang dikenal sebagai non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI). Tetapi, Nevirapine bukan obat untuk infeksi HIV melainkan hanya mengurangi risiko penyebaran penyakit HIV kepada orang lain.

Nevirapine tidak boleh digunakan untuk mencegah infeksi HIV setelah paparan yang disengaja (seperti jarum suntik, darah / kontak cairan tubuh). Berbeda dengan obat HIV yang digunakan untuk mencegah infeksi setelah paparan.

Nitisinone



Deskripsi 

Nitisinone digunakan untuk mengobati gangguan tyrosinemia jenis 1 (HT-1). HT-1 biasanya ditemukan pada bayi dan membutuhkan pengobatan seumur hidup. Kondisi ini disebabkan oleh kekurangan zat alami tertentu yang diperlukan untuk memecah nutrisi (tirosin) yang ditemukan dalam makanan.

Efek ini menyebabkan penumpukan zat tirosin dan terkait dalam hati. Nitisinone bekerja dengan membantu mencegah pembentukan dan penumpukan zat beracun yang menyebabkan beberapa kerusakan pada hati, ginjal, dan sistem saraf. Obat ini harus digunakan bersama dengan diet rendah protein dan tirosin fenilalanin.

Budesonide



Deskripsi 

Budesonide adalah obat yang digunakan untuk mengendalikan kondisi usus tertentu (seperti penyakit Crohn, kolitis ulserativa). Sementara budesonida tidak menyembuhkan kondisi ini, tetapi hanya dapat menurunkan gejala-gejala seperti nyeri dan diare. Budesonide adalah obat anti-inflamasi (hormon kortikosteroid) yang bekerja dengan mengurangi respon imun tubuh.

Jangan Lupa Mengulang Imunisasi

Ditulis oleh Dr. Handrawan Nadesul

Keberhasilan imunisasi ikut menentukan kesehatan anak kelak sampai dewasa. Dengan imunisasi,anak sedikitnyaterlindungi dari 7 enis penyakit seperti hepatitis B, TBC, Polio, campak, tetanus, dan lainnya. Konvensi WHO menuntut setiap orangtua untuk memenuhi hak anak mendapatkan imunisasi. Selain imunisasi wajib, ada juga imunisasi yang dianjurkan. Selain itu, vaksinasi tak cukup hanya diberikan sekali saja, beberapa imunisasi perlu diberikan ulang atau yang sering disebutbooster. Kapanbooster diberikan kita bahas di sini.
JADWAL imunisasi bisa berubah-ubah di setiap negara, disesuaikan dengan perkembangan kondisi dan jenis penyakit yang tengah mengancam anak di negara tersebut. Kita tahu setelah memberikan imunisasi awal sebagai imunisasi dasar bagi anak, perlu dilakukan imunisasi ulang untuk memperkuat dan memperpanjang masa kebal terhadap penyakit agar anak penuh terlindungi.

Imunisasi wajib
Ada 8 jenis penyakit yang vaksinnya dijadikan imunisasi dasar di Indonesia, diantaranya Hepatitis B, TBC, Polio, Campak dan lainnya. Artinya semua anak sejak baru lahir sampai usia 3 tahun diwajibkan untuk menerimanya secara lengkap.
MENGABAIKANNYA BERARTI AKAN MENINGKATKAN ANGKA JATUH SAKIT, SELAIN ANCAMAN KEMATIAN OLEH PENYAKIT YANG SEBETULNYA BISA KITA CEGAH.
Berikut ini adalah imunisasi dasar bagi anak dan jadwal pemberiannya:
·         Hepatitis B diberikan awal kepada bayi baru lahir
·         BCG (untuk TBC) danpolio-1 diberikan saat anak berumur 1 bulan
·         DPT-1, polio-2, hepatitis B-2, dan HiB-1 (untuk radang paru) saat anak berumur 2 bulan
·         DPT-2,  polio-3, hepatitis B-3, dan HiB-2 saat anak berumur 3 bulan
·         HiB-3 saat anak menginjak usia 4 bulan
·         Campak (measles) diberikan pada anak umur 9 bulan
Diharapkan setelah mendapatkan imunisasi dasar, tubuh bayi membentuk kekebalan terhadap kedelapan jenis penyakit tadi. Tentunyatiap anak tak sama respons pembentukan kekebalan tubuhnya. Anak kurang gizi, atau sedang berpenyakit, lemah saja pembentukan kekebalannya. Tetapi normalnya, semua anak tubuhnya akan menjadi kebal.
Namun kekebalan itu bersifat aktif, artinya kekebalan yang dibentuk oleh tubuh anak ini belum terbentuk sempurna, sehingga perlu diberikan imunisasi ulang atau booster. Apabila ini tidak dilakukan, maka kekebalannya baru separuh jadi. Artinya anak belum terlindungi penuh terhadap kedelapan penyakit tadi, atau masih berisiko terserang penyakitnya.

Kapan imunisasi ulang diberikan?
Untuk imunisasi DPT, HiB dan hepatitis B diberikan setelah anak berumur 18 bulan. Pada saat anak berumur 2 tahun diberikan imunisasi campak ulangan, dan pada waktu berumur 3 tahun wajib diulang imunisasi DPT, hepatitis B, HiB, dan campak.
Kalau itu semua dipatuhi, niscaya anak akan terlindung secara penuh terhadap serangan sekian banyak penyakit, yang semuanya berisiko mematikan kalau anak dibiarkan lemah tanpa imunisasi. Maka imunisasi hendaknya tidak diabaikan.
SELAIN IMUNISASI WAJIB, ADA PULA JENIS IMUNISASI YANG DIANJURKAN. KALAU IMUNISASI WAJIB DIBERIKAN LAYANAN SECARA CUMA-CUMA OLEH PEMERINTAH, IMUNISASI YANG DIANJURKAN DILAKUKAN ATAS  PERMINTAAN SENDIRI.
Kita mengenal imunisasi MMR (gondong, campak, campak jerman); tifus, hepatitis A; PCV untuk radang paru olehpneumococcus; HPV (human papilloma virus) untuk anti kanker leher rahim yang diberikan setelah anak perempuan berumur 10 tahun; dan vaksinasi varicella (cacar air).
Untuk lebih praktisnya, agar anak tidak disuntik beberapa kali, kini telah tersedia satu suntikan vaksin untuk 5 penyakit (DPT+hepatitis B+ HiB) atau vaksin pentavalen. Baik imunisasi dasar maupun yang ulangan, anak tidak perlu menderita mengalami lebih dari satu kali suntikan.

Terapi Batuk Pilek di Rumah

Ditulis oleh Dr. Handrawan Nadesul

Beberapa kali mengalami batuk pilek dalam setahun dianggap lumrah. Namun jangan abaikan soal batuk pilek kalau tak ingin menjadi penyulit nantinya. Komplikasi batuk pilek bisa ke mana-mana. Menjadi radang telinga tengah salah satunya. Bagaimana terapi batuk pilek di rumah, kita bicarakan di bawah ini.
BATUK pilek awalnya disebabkan oleh virus. Ada sejumlah besar jenis virus penyebabnya, termasuk jenis yang ganas. Demam, nyeri kepala, rasa ngilu pada sendi, lalu keluhan di tenggorokan, dan hidung, merupakan gejala awalnya. Pada usia bayi dan anak biasanya disertai dengan diare juga. Diare pada anak bisa merupakan bagian dari radang pernapasan atas (ISPA).
Perlu beristirahat
Bukan obat, melainkan beristirahat yang merupakan obat utama batuk pilek, siapa pun dia. Mengapa? Karena apa pun jenis virusnya, seberapa pun ganasnya virus yang menyerang, tubuh yang akan melawannya. Agar tubuh kuat melawan virus yang memasuki tubuh, kondisi tubuh harus ditingkatkan. Salah satu caranya dengan membawanya beristirahat.
Seringkali kita menganggap enteng penyakit batuk pilek dan mengabaikannya. Sedang mengalami batuk pilek tetapi masih tetap masuk sekolah, masuk kantor, dan masih beraktivitas. Padahal sesungguhnya perlu dibawa tidur, dan tidak membiarkan anak bermain. Aktivitas fisik akan melemahkan tubuh. Kekebalan tubuh menjadi tak sekuat bila tubuh dibiarkan beristirahat.
UNTUK MENGUATKAN TUBUH PERLU MEMADAI ASUPAN MAKAN JUGA. TERLEBIH ASUPAN PROTEIN.
Agar tubuh kebal perlu berbagai jenis asam-amino, maka butuh menu berprotein tinggi, selain cukup buah-buahanan, sayur mayur, serta air minum. Susu juga merupakan sumber protein yang lengkap.
Hambatan yang biasanya muncul adalah pada kondisi demam tinggi, nafsu makan umumnya menurun. Upayakan supaya tetap tidak kekurangan nutrisi dan air minum, karena saat demam tinggi menyedot lebih banyak penguapan cairan tubuh.
Menghangatkan tubuh
Saat batuk pilek, tubuh berada dalam kondisi terkena dingin. Orang Inggris menyebutnya catch cold. Ketika tubuh terpapar dingin, ia menjadi lebih lemah. Kehujanan, berenang terlalu lama, berlama-lama di udara terbuka, cenderung melemahkan badan.  Kejadian batuk pilek sering diawali oleh kejadian ini. Maka di saat seperti itu, tubuh perlu dihangatkan.
Sehabis terpapar dingin, atau dalam kondisi lebih dingin dari biasa, badan perlu dihangatkan. Memilih minuman dan makanan yang lebih hangat, badan dibalur obat gosok, minyak telon, minyak kayuputih, dan dibungkus dengan pakaian hangat. Di awal batuk pilek, sop ayam hangat merupakan menu pilihan populer, selain juga wedang jahe.
Amati komplikasi
Ketika di awal batuk pilek, lendir batuk dan atau pilek masih bening encer. Belum perlu minum antibiotika seperti yang sering dikira orang. Pemberian antibiotika selama masih hanya virus penyebabnya merupakan sikap mubazir selain tidak rasional.
Komplikasi bisa juga mengenai kelenjar tonsil (tonsilitis atau amandel), pada yang mengidap asma, sesak napasnya bisa kumat, atau diperberat. Keseringan batuk pilek dibiarkan berlama-lama, berpotensi menjalar ke rongga sinus hidung memicu tumbuhnya polip selain radang sinus (sinusitis), dan atau radang kelenjar di sekitar hidung (adenoid).
Batuk pilek memang jangan diabaikan, agar tidak menimbulkan komplikasi. Tetapi tidak perlu juga terburu-buru menggunakan antibiotika. Kita bisa mengambil langkah-langkah bijak sebagai awal pengobatan batuk pilek di rumah. Selalu jaga kesehatan keluarga ya, Bu.***

Paracetamol Pasca Imunisasi


Imunisasi merupakan hak anak paling dasar, terutama di Indonesia dimana terdapat berbagai macam bakteri dan virus yang siap menyerang buah hati kita. Imunisasi merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme tersebut. Karena itu, imunisasi pun menjadi santapan rutin anak Indonesia. Demikian juga konsumsi obat penurun panas untuk mencegah atau mengatasi demam yang muncul sebagai kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).

Pemberian parasetamol sebagai pencegah demam memang sering dilakukan oleh orangtua maupun dokter untuk mengurangi kekhawatiran orangtua terhadap timbulnya demam setelah imunisasi tersebut. Center for Disease Control and Prevention (CDC) pun menyebutkan bahwa hal ini bermanfaat terutama untuk anak yang memiliki risiko tinggi timbul kejang yang dicetuskan oleh demam tinggi.

Sebuah penelitian yang dilakukan pada 459 bayi di Republik Ceko dan dimuat dalam jurnal kedokteran Lancet edisi 17 Oktober 2009, menunjukkan bahwa pemberian parasetamol pada 24 jam pertama setelah imunisasi memang efektif mencegah demam tinggi pada anak. Hanya 42% anak dalam grup yang diberikan parasetamol yang mengalami demam > 38°C setelah imunisasi, dibandingkan dengan 66% pada grup yang tidak mendapatkan obat.

Namun, dari penelitian tersebut juga ditemukan hubungan antara pemberian parasetamol dengan kadar antibodi spesifik dalam darah beberapa vaksin, seperti HiB, DPT, Hepatitis B, polio, dan pneumokokus. Anak yang diberikan obat tersebut memiliki kadar antibodi pelindung yang lebih rendah dibandingkan dengan pada grup yang tidak mendapatkan obat. Kadar tersebut tetap rendah secara signifikan pada grup ini walaupun telah diberikan vaksinasibooster sewaktu anak berusia 12 – 15 bulan.

Berdasarkan 10 penelitian lain mengenai pemberian vaksin, ditemukan juga bukti-bukti pendukung bahwa penggunaan parasetamol untuk mencegah demam sebagai KIPI dapat menekan respon sistem imun. Namun, hal ini tidak berlaku untuk pemberian obat tersebut untuk mengatasi demam yang memang sudah timbul.

Memang perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai relevansi klinis penemuan ini, ujar Profesor Roman Prymula, ketua penelitian ini. Namun, ia menambahkan bahwa berdasarkan hasil penelitian ini, “pemberian parasetamol sebagai pengobatan profilaksis (pencegahan) setelah imunisasi sebaiknya tidak direkomendasikan lagi tanpa menimbang dengan seksama antara keuntungan serta risikonya.”

Dengan adanya penelitian ini, orangtua maupun dokter di Indonesia berpikir lebih seksama dalam memberikan parasetamol untuk mencegah demam sebagai KIPI pada anak. Sebaiknya obat tersebut hanya diberikan jika memang sudah muncul gejala demam. Orangtua pun tidak perlu khawatir karena demam merupakan tanda bahwa sistem kekebalan tubuh bekerja dengan baik dan secara tidak langsung menunjukkan bahwa imunisasi yang dilakukan juga efektif sehingga merupakan reaksi yang wajar.

Kalbe.co.id

Tuberkulosis (TBC)



Definisi Tuberkulosis

Tuberkulosis adalah penyakit yang menular langsung yang di sebabkan oleh kuman TBC(Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.

Kuman TBC berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam. Oleh Karena itu di sebut juga sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant atau tertidur lama selama beberapa tahun.

Fatofisiologi TBC
Penyebab TBC adalah suatu penyakit infeksi yang di sebabkan oleh bakteri Mycrobacterium Tuberculosis. Bakteri ini pertama kali di temukan oleh Robert Koch pada tahun 1882, sehingga untuk mengenang jasanya bakteri tersebut di beri nama basil Koch. Bahkan penyakit TBC pada paru-paru kadang di sebut sebagai Koch pulmonun (KP).

Penggolongan Obat Anti Tuberkulosis

Lini Pertama

a. Isoniazid
Isoniazid bersifat bakterisid terhadap basil yang sedang tumbuh pesat, aktif terhadap kuman yang berada intraseluler dalam makrofag maupun diluar sel (ekstraseluler).

·         Mekanisme kerja
Dengan menghambat biosintesis asam mikolat (micolic acid) yang merupakan unsur penting dingding sel mikrobakterium.

·         Efek samping
Mengakibatkan gatal-gatal dan ikterus juga polyneuritis, yakni radang saraf dengan gejala kejang dan gangguan penglihatan, perasaan tidak sehat, letih dan lemah serta anoreksia.

·         Farmakokinetik
Dari usus sangat cepat difusinya ke dalam jaringan dan cairan tubuh, di dalam hati, INH diasetilasi oleh enzim asetiltransferase menjadi metabolit inaktif. PP-nya ringan sekali, plasma-t ½ nya antara 1 dan 4 jam tergantung pada kecepatan asetilasi. Eksresinya terutama melalui ginjal dan sebagian besar sebagai asetilisoniazid.

b. Rifampisin
Antibiotikum ini adalah derivat  semi sintetis dari rifampisin B (1965) yang dihasilkan oleh Streptomyces mediterranei. Rifampisin berkhasiat bakterisid luas, baik yang berada diluar maupun di dalam sel (ekstra-intraseluler).

·         Mekanisme kerja
Berdasarkan perintangan spesifik dari suatu enzim bakteri RNA-polymerase, sehingga sintesa RNA terganggu.

·         Efek samping
Penyakit kuning (icterus), terutama bila dikombinasikan dengan INH yang juga agak toksis bagi hati. Rifampisin juga dapat menyebabkan gangguan saluran cerna seperti mual, muntah, sakit ulu hati, kejang perut dan diare, begitu pula gejala gangguan SSP dan reaksi hipersensitasi.

·         Farmakokinetik
Reabsorpsinya di usus sangat tinggi, distribusi ke jaringan dan cairan tubuh juga baik. Plasma-t½ nya berkisar antara 1,5 sampai 5 jam. Ekskresinya khusus melalui empedu, sedangkan melalui ginjal berlangsung secara fakultatif.

c. Etambutol   
Etambutol bersifat bakteriostatik. Obat ini tetap menekan   pertumbuhan kuman tuberculosis yang telah resisten terhadap isoniazid dan streptomisin.

·         Mekanisme kerja
Etambutol bekerjanya menghambat sintesis metabolit sel sehingga metabolisme sel terhambat dan sel mati.

·         Efek samping
Etambutol jarang menimbulkan efek samping. Dosis harian sebesar 15 mg/kg BB menimbulkan efek toksis yang minimal. Pada dosis ini kurang 2% pasien akan mengalami efek samping yaitu penurunan ketajaman penglihatan, ruam kulit dan demam.

·         Farmakokinetik
Pada pemberian oral sekitar 75-80% etambutol di serap dari saluran cerna. Kadar puncak dari plasma di capai dalam waktu 2-4 jam setelah pemberian. Dosis tunggal 15 mg/kg BB menghasilkan kadar plasma sekitar 5 ml pada 2-4 jam.

d. Pirazinamid
Analogon pirazin dari nikotinamida ini (1952) bekerja bakterisid pada suasana asam atau bakteriostatik, tergantung pada pH dan kadarnya di dalam darah. Spektrum kerjanya sangat sempit dan hanya meliputi M.tuberculosis.

·         Mekanisme kerja
Berdasarkan pengubahannya menjadi asam pirazinat oleh enzim pyrazinamidase yang berasal dari basil TBC. Begitu pH dalam makrofag di turunkan, maka kuman yang berada di “sarang” infeksi yang menjadi asam akan mati .

·         Efek samping
Kerusakan hati dengan ikterus (hepatotoksis) terutama pada dosis diatas 2 g sehari. Dapat pula menimbulkan serangan encok (gout) juga gangguan pada lambung-usus, fotosensibilisasi, artralgia, demam, malaise dan anemia, juga menurunkan kadar gula darah.

·         Famakokinetik
Reabsorpsinya cepat & sempurna, kadar maksimal dalam plasma dicapai dalam waktu 1-2 jam . Distribusinya ke jaringan dan cairan serebrospinal baik. Kurang lebih 70% pirazinamida diekskresikan lewat urin.

e. Streptomisin
Suatu aminoglikosida , diperoleh dari Streptomyces griseus (1944), senyawa ini bersifat bakterisid terhadap banyak kuman  Gram negatif  dan Gram positif.

·         Mekanisme kerja
Berdasarkan penghambatan sintesa protein kuman dengan jalan pengikatan pada RNA ribosomal. Antibiotik ini toksis untuk organ pendengaran dan keseimbangan.

·         Efek samping
Gangguan penglihatan berupa Neuritis optica (radang saraf mata) dan bersifat reversible bila pengobatan dihentikan. Sebaiknya jangan diberikan pada anak kecil, karena kemungkinan gangguan penglihatan (visus) sulit di deteksi.

·         Farmakokinetik
Reabsorpsinya baik (75-80%) , plasma-t½ nya 3-4 jam .Ekskresinya lewat ginjal (80%).

Lini Kedua

a.   Ofloxacin
Suatu senyawa antibakteri sintetik dari golongan kuinolon yang bersifat bakterisida. Ofloksasin aktif terhadap bakteri aerobik gram positif termasuk penghasil penisilinase

·         Mekanisme kerja
menghambat DNA girase, suatu enzim essensial yang merupakan katalitas penting dalam duplikasi dan transkripsi DNA bakteri.

·         Efek samping
Mual, muntah, diare, sakit kepala, ruam dan gatal

b.   Levofloxacin
Levofloxacin memiliki spectrum antibakteri yang luas, yang aktif terhadap bakteri gram positif dan gram negative.

·         Mekanisme kerja
Dengan cara menghambat replikasi dan transkripsi DNA bakteri

·         Efek samping
Mual, muntah, diare, konstipasi, sakit kepala, insomnia, mengantuk, gatal, keringat berlebih dan lelah.

·         Farmakokinetik
Pada pemberian oral, levofloxacin diabsorpsi secara cepat dan hamper sempurna. Konsentrasi plasma tertinggi biasanya dicapai 1-2 jam setelah minum obat. Penetrasi levofloxacin pada jaringan paru sangat baik

c.    Ciprofloxacin
Ciprofloxacin merupakan suatu anti infeksi sintetik golongan quinolon, ciprofloxacin efektif terhadap bakteri gram-negatif dan gram-positif.

·         Mekanisme kerja
Dengan cara menghambat DNA topoisomerase yang biasa disebut DNA girase.

·         Efek samping
Mual, muntah, diare, sakit kepala, letih, gangguan penglihatan dan anemia.

·         Farmakinetik
Ciprofloxacin diabsorpsi dengan baik oleh saluran pencernaan. Ciprofloxacin dan metabolitnya di eksresikan melalui urin dan feses.

FDC (Fixed Dose Combination)
FDC juga dapat di sebut sebagai KDT (kombinasi dosis tetap) yang berarti gabungan antara beberapa obat anti tuberculosis dalam satu macam obat.

Pengobatan Tuberulosis diberikan dalam dua tahap, yaitu :

·         Tahap Intensif
Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap  hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Bila pengobatan tahap intesif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar pasien Tuberkulosis BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.

·         Tahap lanjutan
Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.

a. FDC kategori 1
Tahap intensif terdiri dari 2RHZE (Rifampisin, Isoniazid, Pyrazinamid, Etambutol). Obat-obat tersebut di berikan setiap hari selama 2 bulan Kemudian di teruskan dengan tahap intermiten (lanjut) yang terdiri dari 4RH3 (Rifampisin dan Isoniazid), di berikan tiga kali dalam seminggu selama 4 bulan, di berikan untuk :

-           Pasien Baru TB paru BTA (+)
-           Pasien Paru BTA (-) ronsen (+)
-           Pasien TB Ekstra Paru

b. FDC kategori 2
Tahap intensif terdiri dari 2RHEZS (Rifampisin, Isoniazid, Ethambutol, Pirazinamid, Streptomisin). Dan obat-obat tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan, kemudian diteruskan dengan RHEZ (Rifampisin, Isoniazid, Ethambutol, pirazinamid) yang diberikan setiap hari selama satu bulan.

Tahap lanjutan terdiri dari 5R3H3E3 (Rifampisin, Isoniazid, Ethambutol) yang diberikan tiga kali seminggu dalam waktu 5 bulan.

Paduan  OAT ini di berikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya :

a.       Pasien kambuh
b.       Pasien gagal
c.       Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus)

c. FDC kategori anak
Tahap intensif terdiri dari 2RHZ (Rifampicin, Isoniazid, pirazinamid) yang di berikan setiap hari selama 2 bulan. Tahap lanjutan terdiri dari 4RH (Rifampisin, Isoniazid) yang diberikan 3 kali seminggu selama 4 bulan.

Evaluasi Obat Batuk


Pengertian Batuk
Batuk adalah refleks fisiologis yang bisa terjadi pada saluran pernapasan orang sehat maupun sakit. Batuk dapat ditimbulkan pleh berbagai sebab, misalnya rangsangan selaput lendir pernapasan yang terletak di tenggorokan dan cabang-cabang tenggorokan. Radang jalan pernapasan pada bronchitis dan pharingitis. Penyumbatan jalan pernapasan oleh lendir biasanya pilek, bronchitis, dan pertusis. Batuk dapat juga disebabkan oleh bau-bauan, debu, gas, dan perubahan suhu yang mendadak atau juga merupakan gejala dari penyakit TBC, asma, atau kanker paru-paru.
Karena rangsanga saluran pernapasan, maka terjadilah pengeluaran napas secara tiba-tiba dengan kekuatan besa, otot dalam dinding perut dan sekitar rongga badan ditekan dengan tiba-tiba ke atas, sehingga angin yang dikeluarkan menggetarkan selaput suara, maka terjadilah batuk. Karena kekuatan besar itulah, maka batuk akan berfungsi untuk membersihkan saluran pernapasan dari zat-zat yang merangsang penyakit.
Namun batuk juga merupakan suatu penyakit yang dapat menyebabkan gejala yang serius di dalam paru-paru. Apabila penyakit itu sudah memuncak, si sakit akan mengalami serangan batuk yang berulang-ulang. Ini sering berakhir dengan tarikan napas panjang dan dalam, dengan disertai bunyi yang melengking. Batuk yang tidak berat biasanya akan sembuh tanpa menimbulkan kerusakan yang permanen, tetapi penyakit tersebut tetap harus dicegah atau diatasi sendiri mungkin. Pencegahan dan penyembuhan yang tepat sangat diperlukan, terutama pada anak-anak yang sudah lemah karena adanya komplikasi dengan penyakit lain.

Penyebab Batuk
Berbagai kelainan atau penyakit yang merangsang reseptor batuk atau komponen refleks batuk dapat menimbulkan batuk.
Batuk merupakan gejala umum yang mempunyai nilai diagnostik terbatas, tetapi dapat merupakan satu-satunya in dikasi terdapatnya penyakit bronkopulmoncr yang serius.
Batuk sangat sering terjadi pada perokok, yang kadang-kadang tidak disadari perubahan pada sifat batuk dan ekspektorasilah yang membuat mereka menyadari hal ini. Perubahan ini sering dusebabkan oleh infeksi, tetapi mungkin juga merupakan indikasi terdapatnya kaganasan yang banyak ditemukan pada perokok. Masa tanpa gejala berarti pada perokok berlangsung kira-kira 10 tahun setelah merokok dimulai, setelah itu timbul gejala batuk kronik biasanya disertai dengan sejumlah sputum.

 Macam-macam Batuk
Jenis batuk secara garis besar terbagi menjadi dua bagian yakni:
1.      Batuk Kering atau Batuk Non Produktif
Batuk ini tidak mengeluarkan dahak. Tenggorokan terasa gatal, sehingga merangsang timbulnya batuk. Penyakit influensa biasanya diawali dengan batuk, kadang disertai pilek, demam. Batuk ini harus diobati karena mengganggu kenyamanan tidur, perut nyeri, muntah, bahkan bila vasodilasi, brokonkonstriksi, nyeri, gatal pada kulit. Reseptor histamine yang paling bertanggung jawab terhadap segala alergi.
Batuk ini disebabkan karena infeksi saluran pernafasan bagian atas seperti hidung dan tenggorokan karena flu atau pilek. Namun pada beberapa kasus batuk ini juga bisa muncul karena infeksi saluran pernafasan bawah seperti bronchiolitis dan peradangan saluran udara kecil di paru-paru atau pnemonia, batuk ini bisa jadi memburuk ketika cuaca panas, saat berada di ruangan yang hangat atau panas.
2.      Batuk Berdahak atau Batuk Produktif
Umumnya batuk ini disebabkan oleh infeksi dan asma. Pada batuk ini terdapat cairan sekresi dan lendir di saluran pernafasan dengan bagian bawah (tenggorokan dan paru-paru). Saat batuk, dahak akan keluar. Batuk berdahak lebih sering terjadi pada saluran nafas yang peka terhadap paparan debu, lembab berlebih, dan sebagainya.

Penggolongan Batuk
a. Antitusif
Antitusif yaitu obat bekerja pada susunan saraf pusat menekan pusat batuk dan menaikan ambang rangsang batuk. Mekanisme kerjanya menekan batuk dengan mengurangi iritasi lokal pada reseptor iritan perifer. Contoh antitusif antara lain dekstrometorfan dan difenhidramin.
b.  Ekspektoran
Obat yag dapat membantu mengeluarkan mukus dan bahan lain dari paru, bronchi, dan trachea. Salah satu contoh ekspektoran adalah guaifenesin yag menaikan pembuangan mukus dengan mengencerkannya dan juga melubrikasi. Untuk menunjang kerjanya harus disertai banyak minum air. Mekanisme kerjanya berdasarkan stimulasi mukosa lambung dan selanjutnya secara refleks merangsang sekresi kelenjar saluran nafas lewat N. Vagus, sehingga menurunka viskositas dan mempermudah pengeluaran dahak. Contoh ekspektoran antara lain: Gliseryl Guaikolat dan OBH.
            c. Mukolitika
Mukolitika berdaya mengurangi kekentalan dahak dan mengeluarkannya melalui batuk. Zat ini bekerja memutuskan jembatan disulfida. Distribusinya dalam tubuh baik dengan mencapai kadar tinggi, antara lain di saluran pernapasan dan sekret bronchi, sedangkan ekskresinya berlangsung melalui kemih. Contoh obat mukolitik antara lain: bromheksin dan ambroxol.

Obat Gangguan Lambung

Pendahuluan
Maag berasal dari bahasa Belanda yaitu Lambung, Seseorang yang di katakan maag, Bila orang tersebut mengalami gejala-gejala seperti sakit dan perut tidak nyaman. Gejala lainnya yang dirasakan adalah sendawa, perut kembung, mual, muntah merasa penuh, atau merasa terbakar di perut bagian atas dapat muncul secara tiba-tiba dalam waktu yang singkat (Akut), waktu yang lama (Kronik), atau karena kondisi khusus seperti adanya penyakit lain. Salah satu maag akut adalah rasa tidak nyaman ketika mengkonsumsi alkohol maupun asetosal .
Sistem pencernaan makanan dimulai didalam mulut dimana makanan dihaluskan sambil diaduk dengan ludah yang mengandung suatu enzim emilase yaitu ptialin, yang berfungsi menguraikan karbohidrat. Setelah itu ditelan dan adukan dilanjutkan dengan gerakan peristaltik ke lambung dengan bantuan getah lambung yang terdiri dari asam lambung dan pepsin, yaitu suatu enzim proteolitik yang disekresi oleh selaput lendir lambung sehingga terbentuk chimus .
Di seluruh lambung usus inilah dapat timbul berbagai gangguan penyakit baik yang disebabkan oleh terganggunya produksi enzim pencernaan maupun yang disebabkan oleh infeksi-infeksi usus oleh kuman.

Tinjauan Secara Farmakologi
Secara umum lambung memproduksi suatu asam yang disebut asam klorida yang berfungsi membantu proses pencernaan protein. Lambung, usus dan eshopagus sendiri (yang juga terdiri dari protein)  dilindungi dari kerja asam melalui beberapa mekanisme, dan apabila kadar asam yang dihasilkan terlalu banyak maka mekanisme perlindungan ini tidak terlalu kuat / kurang kuat dalam melindungi lambung, usus, dan esphagus terhadap kerja asam lambung merusakpada organ-organ tersebut dan menghasilkan gejala seperti rasa sakit pada perut ulu hati terasa seperti terbakar.
Penting diketahui bahwa ketika mengkonsumsi antasid ini pada saat perut kosong hanya menghasilkan efek sekitar 20-40 menit, karena secara cepat antasid akan di distribusikan ke duodenum. Jika dikonsumsi sesudah makan, antasid memberi efek sekitar 3 jam, hal ini dikarenakan adanya makanan yang akan memperlambat “penghilang” antasid dari dalam lambung. Sangat penting di ingat, ketika menggunakan antasid anda harus berkonsultasi pada apoteker untuk menghindari adanya interaksi antara antasid dengan obat-obat lain.
Penggolongan Secara Farmokologi :
Anti Hiperasiditas
Obat dengan kandungan alumunium dan atau magnesium ini bekerja secara kimiawi dengan mengikat kelebihan HCL dalam lambung. Magnesium atau alumunium tidak larut dalam air dan dapat bekerja lama di dalam lambung sehingga tujuan pemberian antasid sebagian dapat tercapai.
Sediaan yang mengandung magnesium dapat menyebabkan diare (bersifat pencahar) sedangkan sediaan yang mengandung alumunium dapat menyebabkan konstipasi(sembelit) maka biasanya kedua senyawa ini dikombinasikan. Persenyawan molekul antara Mg dan Al hidrotalsit.
2.      Perintang Reseptor H2 (Antagonis Reseptor H2)
Semua antagonis reseptor H2 menyembuhkan tukak lambung dan duodenum dengan cara mengurangi sekresi asam lambung sebagai akibat hambatan reseptor H2.
Pengobatan bertujuan untuk mengurangi rasa sakit, membuat penderita lebih tenang dan beristirahat, juga penderita tidak mengalami kembung. Antasida sering dikombinasikan :
Dimetikon (dimetilpoliksiloksan) berfungsi memperkecil gelembung gas yang timbul sehingga mudah diserap dengan demikian dapat mencegah masuk angin, kembung, dan sering buang angin (flatulensi).

Penghambat Pompa Proton (PPI)
Obat-obat ini mengurangi sekresi asam (yang normal dan yang dibuat) dengan jalan menghambat enzim secara selektif dalam sel-sel parietal. Kerjanya panjang akibat akumulasi di sel-sel tersebut. Kadar penghambatan asam tergantung dari dosis dan pada umumnya lebih kuat dari pada perintangan oleh H2-blokers.

 Zat Pelindumg Ulcus.
Menutup tukak dengan suatu lapisan pelindung terhadap serangan asam pepsin.
Kontra indikasi :
Antasid bekerja dengan cara menetralkan asam lambung yang belebih, dan melindungi selaput lendir lambung. Antasid yang beredar di pasaran biasanya terdiri dari campuran garam alumunium dan garam magnesium, agar tidak menimbulkan rasa sembelit atau diare, kadang-kadang antasid juga mengandung simetikon yang berfungsi untuk membantu pengeluaran gas berlebih di dalam saluran cerna.
Semua obat antasid digunakan untuk mengurangi gejala-gejala yang ditimbulkan oleh kelebihan asam lambung, tukak lambung, granitis, tukak usus dua belas jari, mual, nyeri lambung, nyeri ulu hati dan kembung pada lambung.

Hal yang harus diperhatikan :
  • ·   Tidak dianjurkan penggunaan antasid pada penderita yang alergi pada alumunium, kalsium, magnesium, simetikon, natrium bikarbonat dan bismut.
  • ·         Tidak dianjurkan pemakaian antasid lebih dari 2 minggu, kecuali atas petunjuk dokter.
  • ·      Penggunaan terbaik adalah pada saat gejala timbul seperti ada saat keadaan lambung kosong dan  waktu menjelang tidur malam.
  • ·         Dikonsultasikan dengan dokter apabila :
1.      Penderita yang sedang diet rendah natrium, karena beberapa antasid mengandung banyak natrium.
2.      Wanita hamil dan menyusui serta anak dibawah 6 tahun atau lanjut usia.
3.      Antasid dapat mengganggu absorpsi obat-obat tertentu hingga mengurangi efektifitasnya antara lain isoniazid, ketokodinazol, metamin dan tetrasikin.
Oleh karena itu pemakaian antasid bersama dengan obat-obat tesebut harus berselang waktu minimal 1-2 jam, antasid diibaratkan sebagai selimut atau penutup bagi lambung, maka dari itu diminum 1 jam sebelum makan agar efek dari antasid tersebut seperti isoniazid, ketokodinazol, metamin dan tetrasiklin bekerja dengan baik setelah itu baru boleh dikonsumsi.
Jenis-jenis obat antasid :
  • Alumunium karbonat : dapat digunakan dalam terapihiperfosfatemi (abnormalitas fosfat dalam darah) dengan cara mengikat senyawa fosfat disaluran cerna sehingga mudahmengabsorpsinya. Karena kemampuan ini juga alumunium karbonat dapat digunakan untuk mencegah pembentukan batu ginjal.
  • Kalsium karbonat : dapat digunakan pada kondisi kekurangan kalsium, contohnya osteoporosis posmenopouse.
  • Magnesium karbonat : dapat digunakan pada kasus defesiensi magnesium.
Beberapa jenis antasid tersebut memiliki perbedaan terutama dalam efek menetralkan asam lambung, istilah yang dipakai untuk menjelaskan hal ini adalah ANC  (Antasid Netralizing Capacity). ANC disajikan dalam bentuk perbandingan mEq dan FDA mengklarifikasikan perdosis.Antasid yang baik harus mempunyai kemampuan penetralan yang baik dan juga cepat. Natrium bikarbonat dan kalium bikarbonat memiliki kemampuan menetralkan yang terbesar tapi penggunaan jangka panjang sebaiknya dihindari karena akan mengakibatkan efek samping yang mungkin dapat terjadi.
Kemampuan melarutkan antasid dalam asam lambung berbeda-beda. Natrium bikarbonat dan magnesium oksida mempunyai kemampuan melarutkan dengan cepat dan menghasilkan efek buffer yang relatif cepat, sedangkan alumunium hidroksida dan kalsium karbonat memiliki kemampuan melarutkan yang agak lambat. Antasid dalam bentuk sediaan suspensi umumnya mempunyai kemampuan larut yang lebih cepat dari sediaan tablet maupun serbuk/puyer. Untuk tablet antasid sangat penting dikunyah dahulu sebelum dikonsumsi.
Meskipun relatif aman, antasid juga memiliki efek samping itu antara lain, adanya Hiperasiditas Rebound dan memiliki alkali syindrome, untuk alumunium hidroksida efek samping kontipasi dapat muncul. Sedangkan antasid magnesium memiliki efek laxative (pencahar) dan dapat meningkatkan kadar magnesium dalam darah pada pasien gagal ginjal.

Terapi Farmakologi
Terapi bagi penderita maag yaitu dengan antasid, antihistamin, antikolinergik, demulcenth. Pylory pengobatannya menggunakan antibiotik (dapat mengurangi iritasi lokal pada lambung, secara fisik melindungi sel-sel dibawahnya terhadap kontak dengan iritan dari luar). Khusus untuk sakit maag kronis.

            Tinjauan secara Perundang-undangan
Berdasarkan undang-undang yang dikeluarkan oleh departemen kesehatan RI Obat Gangguan Lambung termasuk kedalam golongan obat bebas, penandaan obat bebas diatur berdasarkan SK. Menkes RI Nomor 2380/SK/VI/1983 tentang tanda khusus untuk obat bebas terbatas yaitu bulatan berwarna hijau dengan garis tepi berwarna hijau.